Ketika Ahli Gizi Lebih Memilih Mie Instan

Teladan sahabat kali ini berasal dari tokoh kontemporer yang hari ini masih bersama kita mengarungi kehidupan dunia. Beliau adalah seorang doktor kimia pangan, seorang ahli gizi yang pernah menjadi menteri pertanian RI. Sebagai ahli gizi ternyata beliau malah kerap memilih menu makan mie instan, yang katanya kurang baik untuk kesehatan.

Mie instan seperti apa yang lebih dipilih sang ahli gizi? Mari kita simak saja cuplikan artikel berikut ini:

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’

Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.

Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.

Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.

‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.

Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.
Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya.

Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.

Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan.

‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan.

Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.
Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’

Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya.

 

Referensi:

Majalah Haq

http://mbakje.multiply.com

http://khoi-riah.blogspot.com

http://ictindonesia.com


4 responses to “Ketika Ahli Gizi Lebih Memilih Mie Instan

  • riska

    kebetulan belum pernah diuji dengan tantangan seperti pak anton…salut!!! btw mie instan memang enak..(lila : “pareng asal ga seharian kan bu??”)

    • pujohari

      teladan dan profil ini sebenarnya sudah lama saya tahu mbak, tapi sekian waktu lalu sempat pudar kehati-hatian ini ketika di hotel waktu tugas…semoga bisa lebih hati-hati lagi dan semoga dlm ketidakhati2an kmrn tetap dilidungi…

  • Erlin Fitriyanti

    patut dicontoh bapak itu🙂

  • Johar Manik

    Mantab dalam menjaga perut agar tidak kemasukan barang yang syubhat, harus dicontoh…. Terimakasih atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: