Membangun Peradaban Islam

Bismillahirrahmanirrahiim, InsyaAllah blog ini akan saya khususkan untuk menukil potongan-potongan (snapshoot) teladan dari para sahabat. Karena berupa snapshoot tentunya akan berisi berbagai pendapat atau telaah dari berbagai tokoh, dari berbagai sudut pandang dan perspektif, serta berbagai momentum. Untuk edisi perdana ini temanya masih sangat global dan makro. Kali ini saya ambil dari cuplikan rubrik wawancara majalah islam Sabili No. 21 Th. XV 1 Mei 2008/25 Rabiul akhir 1429 H. Saya ambil salah satu dialog dengan KH. Syaifudin Amsir (Tokoh NU Betawi) tentang strategi sahabat (khususnya khalifah yang empat) dalam membangun peradaban islam.

Kita awali dengan alasan mengapa KH. Syaifudin Amsir mengambil teladan dari khalifah yang empat ketika sang wartawan Sabili menanyakan tentang strategi dalam membangun peradaban islam. Beliau mensitir perkataan salah satu penguasa Eropa, Napoleon Bonaparte, yang mengatakan bahwa 15 tahun rentang antara Muhammad dan sahabatnya lebih berarti dalam mengubah peradaban dari pada 15 abad rentang antara Musa dengan Isa.

Berikut ini telaah KH. Syaifudin Amsir tentang strategi membangun peradaban ala khulafaurrasidin.

Pertama, khalifah Abu Bakar berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Abu Bakar menyadari karena islam masih muda, maka harus diperkuat sisi ekonominya untuk membangun kekuatan lainnya. Tidak mungkin umat islam bisa berjuang mandiri jika tidak memiliki sumber-sumber ekonomi yang kuat. Amar ma’ruf dalam bidang ekonomi memunculkan pengusaha-pengusaha muslim yang berorientasi akhirat bukan dunia.

Kedua, setelah pondasi ekonomi kuat, khalifah Umar memperkuat internal umat islam dengan penegakan hukum. Hukum diterapkan tanpa pandang bulu. Pejabat yang korup langsung diadili dan dipecat. Hukum tidak kebal bagi umat islam sendiri, meski kelihatan seperti membela kelompok non-muslim. Tapi yang dimunculkan oleh Umar adalah ketegasan dan kepastian hokum. Keputusan ini memang tepat, karena pada saat islam mulai menanjak maju terjadi yang namanya euphoria. Ini yang diluruskan Umar bahwa perjuangan belum selesai.

Ketiga, setelah fondasi ekonomi dan kepastian hukum, khalifah Ustman bin Affan mulai menjalankan ekspansi dan ekspedisi ke penjuru dunia memperkenalkan kebenaran islam agar tidak dimiliki dunia islam saja, tapi harus menjadi rahmat seluruh alam. Karenanya, khalifah memilih orang yang berbakat di bidangnya untuk maju ke garis depan menjadi diplomat, utusan khalifah atau panglima perang. Akhirnya muncullah sahabat seperti Abi Dzar al-Ghifari berhadapan dengan panglima nasrani yang sangat mewah. Dalam konteks ini, kezuhudan Ustman tidak perlu dipajang dan dipamerkan di mana-mana. Untuk berhadapan dengan dunia luar, khalifah menyebarkan panglima-panglima yang perlente dan cakap dalam bidangnya. Pada masa inilah sejarah mencatat islam menyebar ke mana-mana.

Keempat, Allah menyempurnakan islam dengan sikap dan kepemimpinan Ali. Sekali lagi, pada saat islam makin meninggi, euphoria makin menjadi-jadi. Katamakan pada dunia dengan sendirinya mulai terjadi dalam tubuh umat islam sendiri. Ali sendiri mengatakan, “Hai dunia, aku telah talak engkau tiga kali, tapi kenapa masih saja mengejar aku juga.” Karena itu, konsentrasi yang dijalankan Sayyidina Ali adalah meluruskan kekuatan yang menjadi keindahan islam. Keindahan islam bukan hanya pada menumpuk harta, tapi kepastian hukum, keadilan dan pengelolaan harta untuk jihad fii sabilillah.

Referensi:

  1. Sabili No. 21 Th. XV 1 Mei 2008/25 Rabiul akhir 1429 H (hlm. 54-55)
  2. http://1.bp.blogspot.com  (gambar kaligrafi Abu Bakar)
  3. http://kisahkayahikmah.files.wordpress.com  (gambar kaligrafi Umar bin Khatab)
  4. http://www.muslimdaily.net  (gambar kaligrafi Ustman bin Affan)
  5. http://www.lastprophet.info  (gambar kaligrafi Ali bin Abi Thalib)

4 responses to “Membangun Peradaban Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: