Ketika Politisi Muslim Bicara Kematian

Selasa, 24 Mei 2011 atau 21 Jumadil Akhir 1432 H situs http://www.dakwatuna.com merilis sebuah artikel berjudul “In Memoriam: Artikel Terakhir Ustadzah Yoyoh Yusroh“. Tulisan dengan judul asli “Kematian adalah Sebuah Misteri” mungkin merupakan satu dari beberapa tulisan terakhir Ustadzah Yoyoh yang belum dipublikasikan atau diterbitkan.  Sekedar informasi, Yoyoh Yusroh merupakan seorang da’iyah sekaligus anggota DPR RI dari Fraksi PKS, yang meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Tol Palikanci, Sabtu 21 Mei 2011. Bagi saya tulisan ini sangat menarik dan berkesan, bukan semata-mata karena membahas tentang kematian yang selang beberapa waktu kemudian menjemput penulisnya sendiri. Berikut ini terlebih dahulu saya kutipkan beberapa bagian dari artikel tersebut:

Siapa pun manusia di dunia ini, baik ulama, cendikiawan, dokter, psikolog, para normal atau apapun statusnya tidak akan tahu kapan hari, jam, dan tanggal kematiannya. Karena kematian seseorang merupakan hak prerogative Allah SWT yang tidak pernah diumumkan kepada manusia.

Untuk para hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga untuk menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain………………………………………………………….

…………………………………………………………………….

……………………………………………………………………..

…………………………………………………………………….

Ada lagi peristiwa yang sangat memilukan. Seorang ibu yang baru selesai menunaikan ibadah haji meninggal di pesawat GA 981. Ketika ia menaiki tangga, pas di anak tangga yang terakhir dekat pintu ia terjatuh dalam posisi duduk. Kebetulan penulis duduk di dekat pintu sehingga terlihat jelas bagaimana ia terjatuh dan dibantu suaminya untuk duduk. Ia terlihat sangat lemah , sehingga dibaringkan dan di gotong oleh teman-temannya sesama jamaah haji dari Solo. Saat digotong dan lewat di hadapan penulis, penulis berdiri dan sempat memegang kakinya yang terasa sangat dingin. Kemudian pramugari melalui pengeras suara menanyakan siapa penumpang yang dokter. Ia mohon bantuannya untuk menolong pasien yang sedang sakit. Ternyata ada dua dokter laki-laki dan perempuan yang siap menolong, kemudian agak ramai mereka mondar mandir karena posisi duduk ibu Hartati-nama ibu itu- di kelas ekonomi agak rumit untuk mendapat bantuan. Akhirnya kebijakan crew pesawat ibu Hartati dipindahkan ke kelas bisnis untuk memudahkan pengurusannya.

Setelah pesawat take-off beberapa menit dan suasana agak tenang, masing-masing petugas duduk kembali ke kursi masing-masing. Penulis mencoba melihat ibu Hartati di tempatnya, ternyata beliau tidur mendengkur di sebelah suaminya. Tidak lama kemudian terlihat suasana yang agak ribut. Ternyata ibu Hartati sudah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk. Terpikir oleh penulis tidak mungkin selama 9 jam mayat bisa bertahan duduk di kursi. Akhirnya setelah musyawarah dengan crew pesawat jenazah ibu Hartati diletakkan di belakang barisan kursi bisnis terakhir dengan beralaskan plastik.

Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk memberi masukan kepada pihak penerbangan. Ketika rapat kerja bulan Mei 2010 dengan pengelola maskapai Garuda di komisi VIII yang membincang masalah biaya penerbangan haji, penulis sampaikan kepada Dirut Garuda pak Emir Sattar bahwa penerbangan harus selalu mempersiapkan KIT untuk jenazah berupa kantong mayat, karena sangat mungkin dalam penerbangan jauh atau dekat ada seseorang yang tiba ajalnya. Saat itu beliau mengaminkan, dan mudah-mudahan sekarang sudah direalisasikan.

Mungkin bagi sebagian orang, tulisan tersebut hanya berisi perkara sepele dan bukanlah sesuatu yang  urgen. Bahkan sebagian orang mungkin akan berkomentar, “Ah, anggota DPR cuma bisa bicara masalah seperti itu? Apa tidak ada yang lebih penting?” Namun, bagi saya justru tulisan ini menunjukkan perpaduan spiritualitas dan intelektualitas yang menarik dan seharusnya dimiliki oleh pemimpin-pemimpin masyarakat kita, sekaligus menunjukkan responsibilitas Bunda Yoyoh sebagai wakil rakyat.

Lalu, di manakah letak perpaduan spiritualitas dan intelektualitas yang saya maksud? Pertama, mari kita bicara mengenai spirit kematian. Sebagai orang beragama, tentu kita yakin bahwa kematian merupakan hak prerogatif Tuhan yang dapat menimpa seseorang kapan dan di mana saja. Oleh karena itu, selalu ada nasihat bijak bahwa yang paling penting adalah selalu menyiapkan diri menghadapi kematian yang bisa datang kapan dan di mana saja tersebut.  Namun, mungkin karena masih tipisnya spirit tersebut seringkali  dalam suatu tempat atau perjalanan yang nyaman kita  seringkali lupa bahwa diri ini bisa saja bertemu kematian. Ini baru terhadap diri sendiri lho, bagaimana terhadap orang lain? Maka wajarlah spirit ini juga belum mampu membimbing logika kita untuk ikut memikirkan bagaimana jika ada orang lain yang meninggal dunia dalam suatu tempat atau perjalanan yang nyaman tersebut. Spirit kematian inilah yang berhasil dicermati dan diajarkan kepada kita dengan sangat menarik oleh Bunda Yoyoh kepada kita melalui tulisannya.

Kedua, marilah kita berbicara mengenai logika pelayanan publik yang menjadi harapan kita. Sudah menjadi tuntutan kita selaku konsumen untuk selalu mendapat pelayanan prima, tidak terkecuali layanan penerbangan dalam pesawat. Tetapi pernahkah logika kita sampai memikirkan dan mengajukan tuntutan serupa bagi orang yang meninggal dunia. Padahal kita sadar bahwa seseorang yang telah meninggal dunia pun tetaplah makhluk Tuhan yang layak untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik. Padahal kita juga sadar bahwa kematian bisa terjadi saat kita berada dalam pesawat, sehingga sudah sewajarnya  lah tuntutan pelayanan prima juga harus dipersiapkan dan disediakan untuk saudara kita jika meninggal dunia dalam perjalanan pesawat. Sekali lagi, logika pelayanan publik inilah yang berhasil dicermati dan diajarkan kepada kita dengan sangat menarik oleh Bunda Yoyoh kepada kita melalui tulisannya.

Terakhir, sebagai wujud tanggung jawab sebagai wakil rakyat Bunda Yoyoh tidak berhenti cukup pada kecermatan spiritualitas dan intelektualitas tersebut.  Beliau meneruskannya dengan menyampaikan pemikiran dan memperjuangkan tuntutan tersebut kepada pihak penyedia layanan penerbangan, yang dalam hal ini PT Garuda Indonesia. Suatu tuntutan yang bahkan tidak sempat dilihat hasilnya oleh yang memperjuangkannya karena Bunda Yoyoh telah mendahului kita bertemu kematian itu sendiri. Maka, suatu hari jika tuntutan ini terwujud, maka sudah selayaknya kita harus mengenang dan tidak melupakan jasa-jasa dan responsibilitas beliau ini. Untuk pihak manajemen Garuda, semoga tulisan Bunda Yoyoh ini terasa lebih berkesan dan bermakna karena berisi semacam penagihan terakhir atas janji  yang pernah diucapkan oleh Bapak Dirut.

Selamat jalan Bunda Yoyoh! Terima kasih atas segala pengajaran dan perjuangannya!

​اللَّهُمَّ اغْفِرْ لها وَارْحَمْها وَعَافِها وَاعْفُ عَنْها وَأَكْرِمْ نُزُلَها وَوَسِّعْ مُدْخَلَها وَاغْسِلْها بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّها مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِها وَأَدْخِلْها الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ


Ketika Ahli Gizi Lebih Memilih Mie Instan

Teladan sahabat kali ini berasal dari tokoh kontemporer yang hari ini masih bersama kita mengarungi kehidupan dunia. Beliau adalah seorang doktor kimia pangan, seorang ahli gizi yang pernah menjadi menteri pertanian RI. Sebagai ahli gizi ternyata beliau malah kerap memilih menu makan mie instan, yang katanya kurang baik untuk kesehatan.

Mie instan seperti apa yang lebih dipilih sang ahli gizi? Mari kita simak saja cuplikan artikel berikut ini:

Dalam Resonansi-nya di Republika, Zaim Uchrowi yang alumnus IPB menulis: ‘’Sebagai ilmuwan, Anton Apriyantono dikenal perfeksionis, konsisten, pekerja keras, dan fokus. Ia memperjuangkan ’halal’ di tengah masyarakat yang katanya agamis ini. Ia mengikhlaskan hidup untuk perjuangannya itu.’’

Perjuangan Anton didukung anugerah berupa indera penciuman yang tajam untuk menggeledah jenis dan kualitas makanan atau minuman. ‘’Sebagai seorang flavour scientist, saya selalu curious dengan bau-bauan. Saya punya kebiasaan mencium apa-apa yang akan dimakan,’’ aku pakar pangan IPB ini.

Suatu pagi Rossi, sang istri, menyodorkan mie goreng buat sarapan suami. Dengan bersemangat, Anton menuju meja makan. Tapi, dari jarak agak jauh, hidungnya sudah membau kurang enak. Ia lalu mengendus bau mie goring tersaji. Eh, ternyata benar, mie tersebut sudah menyimpang baunya.

‘’Ini mie kemarin ya Ma,’’ kata Anton. ‘’Iya tuh, maaf yah,’’ sahut sang istri malu-malu. ‘’Aduh, maaf nih Ma, saya nggak bisa memakannya. Mie ini sudah rusak, saya khawatir dengan perut saya,’’ kata Anton.

Lain pagi, iseng-iseng Anton ikut pesan jamu keliling langganan pembantunya. Tak tanggung-tanggung, ia mengorder jamu sehat lelaki. ‘’Pakai telur mboten, Pak,’’ tanya si Mbok jamu. Sambil mengiyakan, Anton lalu membuka tutup botol-botol jamu, lalu membauinya satu per satu. ‘’Bapak emang biasa begitu, Mbok,’’ kata istri Anton melihat kelakuan suaminya. ‘’Ya ndak apa-apa, to Bu,’’ sahut si Mbok sambil tertawa.

‘’Nah,’’ kata Anton tiba-tiba. ‘’Iki opo Mbok?’’ katanya sambil menunjukkan botol yang mengobarkan aroma alcoholic beverages.

‘’Iku anggur,” jawab si Mbok kalem.

Masya Allah, betul dugaan Anton. Ia pun lalu memberi pengertian pada penjual jamu. ‘’Tolong ini jangan diberikan untuk orang Islam, ya Mbok. Nggak boleh sama Gusti Allah,’’ pinta Anton dalam dialek Jawa. Saat itu ia belum tega untuk melarang si Mbok jualan anggur sama sekali.
Jangan kira Anton beraninya hanya pada wong cilik. Pernah, seusai mengaudit sebuah pabrik milik perusahaan besar, Anton dan rekan-rekan auditor LPPOM MUI disuguhi makan siang oleh tuan rumah. Saat itu dengan lugunya para petinggi perusahaan menyilakan tamunya menyantap makanan paket bermenu Jepang dari sebuah resto Jepang terkenal.

‘’Maaf, ini belum bersertifikat halal. Tolong saya minta nasi Padang saja,’’ kata Anton sambil menyingkirkan hidangan dari hadapannya.

Warung Padang pula yang akhirnya menjadi solusi bagi tuan rumah di sebuah acara resmi di NTT, tatkala menteri Pertanian Anton Apriyantono berkunjung ke sana. Semula panitia ngeri, sambutannya bakal dinilai keterlaluan untuk menghargai seorang petinggi negara. Tapi ternyata Pak Anton makan dengan lahapnya di warung Padang itu.

Skenario tersebut susah payah di-arrange oleh Sekretaris Menteri, Dr Abdul Munif, berdasarkan pengalaman sebelumnya mendampingi Mentan di Bali. Waktu itu, panitia menjamu Mentan dan rombongan di sebuah restoran besar. Hidangan memang tidak menyuguhkan babi. Tapi, demi melihat menu babi di daftar menu reguler restoran tersebut, Pak Menteri kontan mengurungkan makan.

‘’Saya makan pop mie (yang bersertifikat halal) dan air putih saja,’’ kata Anton tanpa basa basi.

Kementrian Pertanian dan Peternakan Rumania pun pernah mencicipi ketegasan Anton Apriyantono dalam soal makanan halal. Waktu itu, mereka mengundang Mentan dan rombongan Kedubes RI di Bukarest dalam sebuah jamuan kenegaraan.

‘’Silakan, ini halal food, tidak ada babi,’’ tuan rumah yang sudah berkoordinasi dengan Sekretaris Menteri Pertanian RI, mempersilakan Menteri Anton.

Saat itu, selain menu vegetables, juga tersaji daging bison dan kalkun muda nan mengundang selera. Anggota rombongan Mentan yang memang sedang lapar, sudah membayangkan bakal bersantap besar yang uenak tenan.

Olala, ternyata Pak Anton hanya memakan salad, makan roti tawar, minum air putih, lalu mengakhiri makan dengan buah-buahan. That’s all. Sebab, perkara halal bukan sekadar ada tidaknya daging babi. Daging binatang halal pun mesti dikejar lagi bagaimana cara penyembelihannya. Terlebih di negeri Barat yang umumnya tidak mengenal halal-haram.
Ketika tuan rumah Rumania setengah memaksa mencicipi hidangan besar lainnya, Menteri Pertanian hanya berucap, ‘’Sudah cukup buat saya, terima kasih.’’

Tak hanya shohibul bait yang melongo. Rombongan Pak Menteri pun terpaksa mengikuti jejak boss-nya.

 

Referensi:

Majalah Haq

http://mbakje.multiply.com

http://khoi-riah.blogspot.com

http://ictindonesia.com


Ketika Presiden Kalah di Pengadilan

Ini mungkin hanya kisah tentang selembar baju besi, yang hilang dari tangan pemiliknya. Lalu pindah ketangan orang lain. Pemilik baju besi itu Ali bin Abi Thalib, sang khalifah. Sedang pemilik baru, yang mengaku memiliki baju itu adalah seorang Yahudi. Baju itu sendiri hilang, ketika Ali terlibat dalam sebuah peperangan. Tetapi Ali tak pernah lupa dengan ciri-ciri bajunya. Maka ketika dilihatnya baju itu ada di tangan seorang Yahudi, ia segera memintanya.

Ali sangat yakin itu bajunya. Tapi Yahudi itu tetap dengan pendiriannya. Ia tidak akan memberikan baju itu. Akhirnya orang Yahudi itu meminta untuk dihadapkan kepada hakim. Mereka sepakat untuk meminta diadili oleh seorang hakim Muslim. Maka dipilihlah Syuraih, sang hakim yang sangat terkenal. Kesepakatan menuju pengadilan, bagi orang Yahudi itu, adalah sebuah pengharapan. Siapa tahu ia bisa mendapatkan baju itu. Ia tahu, bahwa di jaman itu, keadilan adalah warna utama agama Islam, ruh dan nafas besar para pemeluknya.

Keduanya menemuinya di peradilan. Hakim menanyakan persoalan menurut versi masing-masing. Kemudian ia menoleh kepada Ali dan memintanya untuk menghadirkan saksi. Tapi hakim menolak salah satu saksi yang dihadirkan Ali, yaitu Hasan, anaknya. Ali menjawab, ”Subhanallah! Seorang yang dijamin akan menjadi penghuni surga (Hasan) kesaksiannya tidak diterima. Tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah SAW pernah menyatakan Hasan dan Husain adalah dua pemuda yang menjadi penghuni surga.” Kata Sang Hakim, ”Benar, wahai Amirul Mukminin. Tapi sebagai hakim saya tidak membolehkan kesaksian seorang anak kepada ayahnya.”

Ketika Ali mengalihkan pandangannya kepada ahli zhimmi, ia berkata, ”Ambillah baju besi itu, karena aku tidak mempunyai saksi selain kedua orang itu.” Ahli zhimmi itu kemudian menyatakan, ”Tapi aku bersaksi baju besi ini adalah milikmu, wahai Amirul Mukminin. Amirul Mukminin menghakimiku di depan hakimnya sendiri, sementara hakim memutuskan perkara dan memenangkanku!” Ahli zhimmi itu kemudian bersaksi agama yang menyuruh hal tersebut pastilah benar. Setelah itu, ahli zhimmi menyatakan masuk Islam. Ali terharu dan menyatakan menghibahkan baju besi dan kuda untuknya.

Kisah tersebut memberi tiga pelajaran berharga kepada kita semua. Pertama, tidak ada orang yang kebal hukum, termasuk pemimpin tertinggi (Amirul Mukminin) saat itu, Ali Bin Abi Thalib. Dalam berperkara pemimpin tidak selamanya harus dimenangkan. Kekuasaan tidak dapat mengintervensi proses peradilan. Hukum tidak boleh tunduk kepada kekuasaan, tetapi harus membela kebenaran dan keadilan.

Kedua, keadilan hukum harus ditegakkan kepada siapun, termasuk kepada non-Muslim. Syuraih adalah hakim teladan yang mampu bersikap objektif dalam memutuskan perkara, meskipun yang berperkara itu adalah menantu Rasulllah SAW. Ketiga, pentingnya kesadaran dan sikap taat terhadap putusan hukum. Ali dengan legowo mau menerima dan patuh terhadap keputusan hakim yang diangkat sendiri, Syuraih. Supremasi hukum memang harus ditegakkan dan dipatuhi oleh semua, tanpa pandang bulu.

Akhirnya, ini mungkin hanya kisah selembar baju besi. Tapi sesungguhnya adalah kisah tentang pengharapan. Tentang orang-orang yang dengan selapang perasaan mengharapkan penyelesaian hidupnya, di tangan orang-orang Muslim, yang bisa dipercaya. Seperti itu pula semestinya kita menjalani kehidupan kemusliman kita. Menjadi seorang Muslim tak semata soal suka atau tidak suka. Ini memang pilihan, tapi sejujurnya, menjadi Muslim –dan seperti agama Islam itu sendiri– sama artinya dengan menjadi pusaran pengharapan.

Alangkah indahnya Islam. Tapi alangkah indahnya orang-orang yang memeluknya, menjalankannya dengan baik. Seperti Ali yang tunduk pada hukum. Atau Syuraih yang tegas untuk dan demi hukum. Lalu alangkah bahagianya orang Yahudi itu, melihat keindahan Islam, keadilan Islam, melihat pula orang-orang mulia yang menjalankan Islam sepenuh hidupnya, lalu ia tertarik, dan akhirnya mendapatkan hidayah dan masuk Islam. Pada mulanya ia hanya mengharapkan selembar baju besi. Tapi di pusat-pusat pusaran Islam, seperti pada sosok Ali, atau Syuraih, atau pengadilan yang bersih dan berwibawa itu, ia telah menemukan kekayaan batin yang abadi.

Referensi:

http://obathatiku.blogspot.com/

http://haritsaja.wordpress.com/

Majalah Tarbawi

http://t3.gstatic.com/


Backpacker Ala Imam Bukhari

Aktivitas backpacking seringkali dijadikan rujukan bagi para pejalan yang ingin melakukan suatu perjalanan dengan biaya rendah dan biasanya memakan waktu yang panjang. Salah kaprah pun kerap terjadi. Semangat dan filosofinya pun tereliminasi. Backpacking tidak semudah itu dirumuskan, meski salah kaprah tersebut mengandung beberapa unsurnya.

Beberapa unsur-unsur penting yang bisa saya ekstrak dari berbagai definisi backpacking adalah biaya rendah, waktu yang panjang, kemandirian, perhitungan, dan interaksi dengan kehidupan setempat. Backpacker mencoba untuk lebih dalam mengetahui berbagai hal tentang suatu tempat, sehingga selain untuk bersenang-senang, mereka juga belajar.

Jika demikian, mungkin salah satu “backpacker” paling sukses di dunia adalah imam Bukhari. Siapakah imam Bukhari? Apabila ada nama orang yang identik (memakai/dipakai) dengan suatu tempat, kemudian popularitas orangnya mampu melebihi popularitas kotanya, maka salah satu dari yang sangat sedikit adalah imam Bukhari. Apabila George Washington sudah mulai tertinggal popularitasnya jika dibandingkan dengan popularitas dan perkembangan kota Washington, apabila nama Syekh Yusuf al-Makassary telah jauh tidak dikenal dibandingkan dengan kota Makassar sendiri, maka tidak halnya dengan nama Imam Bukhari. Nama imam Bukhari melambung dikenal oleh sebagian besar penduduk bumi, jauh meninggalkan popularitas kota Bukhara. Bahkan kebanyakan orang yang mengenalnya nyaris tidak mengetahui bahwa nama itu bermakna seorang pemuda dari Bukhara.

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. ebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total. Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Beliau pernah berkata “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Lalu bagaimana beliau membiayai hidup dan perjalanannya mencari ilmu tersebut? Perlu diketahui bahwa imam Bukhari memulai pengembaraan ilmiahnya saat berusia 16 tahun ketika bersama orang tuanya mengunjungi kota mekkah dan madinah untuk berhaji. Artinya, dapat dikatakan bahwa imam Bukhari memulai travelling-nya bukan dalam kondisi finansial yang sudah mapan. Di sinilah yang saya maksud imam Bukhari sebagai seorang “backpacker“.

Untuk memenuhi keperluan hidupnya, imam Bukhari biasa menanam saham secara mudharabah di kota-kota yang disinggahinya. Lalu dari hasil dagang keuntungan yang didapatkan dibagi dengan adil untuk membiayai keperluannya. Tetaoi tidak jarang imam Bukhari mengalami kesulitan ekonomi dalam perjalanannya. Imam Bukhari pernah menuturkan, “Suatu ketika aku mendapatkan keuntungan sebesar 500 dirham sebulan. Lalu aku gunakan untuk menuntut ilmu. Apa yang di sisi Allah jauh lebih baik dan jauh lebih kekal. Suatu ketika yang lain, dana itu terlambat datang kepadaku sehingga terpaksa aku memakan rerumputan beberapa hari.”

Begitulah imam Bukhari membiayai perjalanan ilmiahnya, keterbatasan dana maupun berlimpahnya dana tidak menjadikan semangat menuntut ilmunya menjadi goyah. Seandainya sebagian anak negeri ini memiliki semangat dan kegigihan dalam menuntut ilmu seperti imam Bukhari, niscaya sebagian besar masalah pendidikan dan ketertinggalan kita akan hilang. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami generasi yang memiliki semangat dan kegigihan dalam menuntut ilmu seperti imam Bukhari.

Referensi:

  1. http://jengjeng.matriphe.com
  2. http://opi.110mb.com/haditsweb
  3. Majalah Sabili, edisi no. 13 Th. XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 1430.
  4. http://roxanatour.com
  5. http://truelife200vi.wordpress.com
data:image/jpg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBhQSERUUEhQUFRUVGSEaGBgYGBkdGBwYGR8fHhgbHBgYHCYeGiEjHBoXHzMiJScqLC0sHB8xNzAqNSYrLSkBCQoKDgwOGg8PGi0kHyQqLC8pLDU1NTQsLywvLC4sKSw0LCw1LywpMjIpLTQqLzAsLCw0LjIpKSk0LCwsLCksLP/AABEIAKAAeAMBIgACEQEDEQH/xAAbAAACAwEBAQAAAAAAAAAAAAAEBQIDBgABB//EADkQAAICAQMCBAMGBAUFAQAAAAECAxESAAQhEzEFIkFRBjJhI0JxgZGhFGKx8BUzUsHRQ1NykvEW/8QAGQEAAwEBAQAAAAAAAAAAAAAAAQIDAAQF/8QALxEAAQMDAgIJAwUAAAAAAAAAAQACEQMSITFBUfAiYXGBobHB0eEEEzIUI5HC8f/aAAwDAQACEQMRAD8AcPHYYPkVY9gQCBxwChDdxd3fPfXbTYqlmOOr7kDzNXbJycmqz3J1dq1XH/jfHrVHvevLFNg0HPesaz3an08kbJtuntZAwa5AMskOOPqvb2J+bjv+fvhG+eEES5MhkoYRsenfctQsgsQLqxYvgE6ZbkM8caoQQ1W5sEEAFWq+9j5T6kfjpkxoWe319teo2m24OGwUQ4gEbJD4hIr7RQLtVQ/K/oBfpXv9NZyGQA8nT/prtIBXEbxgGACqfEZGOvksXa1WVEYktkkihFAkHkXR+vuPfXP9S5v3I3WsMXDRWdQe4/Ua7qD3H6jUtdrnwsq3TLkHkdj6fgdRM1jtzxxY9x+erSgPcA6g8YrsPT0+o04IMArBQi3yM2IJvmvKwBruFYjFiKNhSSKPsauLgdyP10rfbMkaq2PTiEZyMjm126lU+yZQkXl5Zgxsi6F+Una+KRtYFpXNOMLBIAIvuLIHvZAIFixbiUxA2RazgdiP1GrF3/8AMv7a9klhWgZowzHEAuoJYVYAJBY8jgc8j3Ghd1uwiZdxYoAgk26xkjnsrMAfbt3IGlwtkJl/Gp7/ALH/AI12hFSMswMkZKEBhmpKlvlDC/LZ7XyT212t0OtNLl5rtTljo0dUKDzoKajtNw8bBh3B9e391Yv6nTOf4rZ1YdMAFSO57kckcdue376BJofhoPfyLFEXdgqooyJuva/6avTeWjCWEf4n4kZ39lF4j29yfqa0LDEwkaj5CAaJJIYdyPoRXHFFeLzOM0ZSxUHlCMgPQkAi/wAiD+eoI6uXT5sDi4YWPOoNc8EFWH6ka56kvzuqU3WnOh1RF67Q7wyF76gVQeFWMWR6hmctf4qF7nvxVrxWSSWoriVshaPrxyG9LvU737NVftsGr/BT1GTt+n9RqG22Aj5UyYngKzsy/iMiTfHvqG42IaMLKOpRF5AUTf3lWlP4EV9NEOfMW+KFjNbvBWbnbiRGRvldSrenDAg8+nBOlUvh0jO/VHUUxNGChCWr1mCC3ztiPMKUACgpsabLSiuAOFW2JJ47eb1u/Uk9++p6enUn1CR7Cw9WxS/wvZOohjZ0ATzSKyFkkcsGJBDrVOXIBBFlTj5RpqPh5XbctkE6rxsp+biNlkNgEVk5lrmwGHtWh5UJHHcdv+ONX7ffmuQR6H3+tj1/Lvp3TFwTMcDhU734Q4ZWkVk8wUYX5ZJ0mkD2xD2YwooKACbDa7TeLdcXVg867U7ingJKkvIF99U7rxNFsArasitZYAdSseQpsm+APcXXfQrznNzSlSB0ypU+l5g8jm1pT/ov71AjaxqcyeeoBnkBTUoTkVjyALFV9NSLnvHQHfz7LNbTpu/cMnhzj+Cu3e46SSvMwwU2pVGJCAA0VF2QQ3PtV1qjfO7gxN0gxkVfI7PjJGVmZHuNQDgpIKllsd+1sukMcataxo8giqo5XfHvd+ulCeJJhBKWlcSkJGJZLCZHki7o4oVB5PNfeOqsJYIdlNa2qSWiPLc92Aq9v4C8bZIUbGS41LMo6Yi6SqWCmio4FA8KB7nUvDPAniZCzqwVY1w5xuOJIzIOLyBQ1fGLHseQani3nWNonEjfzIaA7sQGsDsLrua0PtfiJHUtg61EZgDjyikg1R4NiqNaoXFT+zUiQOeQhR4DJ0yjCI4xQxL52Abol/M4MTDnMHCnXiiTrSeG7OkVSVJCheFCglQAaQcKD7Dt20qfxnGEzNE4QIHHKEkNVcBuDRvnXf4+ESSXEtGn3hj5gDTY2eQCe/r6XoEysKT503jv4LRmMdvbWQ8WjOG6VRLIzRTc1MCLDYqyMDE4JoK0ZBNoMfmYuD4+c2RYnZkUMwBQUXBIAthkeD2+mvfEfGimA6TnqMoU2g8x81EMwIoKdBpgqgpk49u3yS/xsTiN6YM8E0ZR3QAPkFqwuII6jhLWq9bo6rf+JDEGRiBIkYYRIAVdcmf5TyCa/wBPHb0DfxDxuKNolkFNIwCggHFq7324JC2PU6V7DxqCMdBWkfCJpwxxOatcpo8eamJ5A9dSuioOz2VhRe+kYE8PVC7bcTdYMUYBkRHfHthNuAPJ6lxhZApQ+VAY6g243QaQ9vNWIRiVuVVBpoghuLJ/mk7XagEHWbMq8aOBw6hhfemAIv09de7lLwHuw/Qcn+mulj8rjLI1STbCYToS0mC9WOsBjIQ0TIWAWlLL1KYYjydxkcu1oNzs1ljeJiQsiMhIqwHUqavj112pwDqYVQepIYYjXKBKYqoAoYqaQ193y1x9PS6Fioe1f3/togc9/wAtcYwSDXI7aDRaAFzPN7i7ipaQbzwColSlljiNxxMvc3xmcvOFBY40uXAJ9dP9Rf0/HRicKtOq6mcJb4Z4c8fmDIwaix6TIzADygeekxXgLiABxQ0Ls/hjFAM1FRyR2sWJYyCrkOZzx7gcemnnSGWWK5VjlQyxu6y71fNdr1Da7VYz5RwOwJJVeCKRWsIKLDy1wa7UBMXAQQOpdP6iSSHETrgc7pV/+d+waK4VyQJmkOL8VyxzOV43XHPOiZfAGeGSBXpG4TJSxRfVQchkOBV9hxzxR23ZioLrgxux6cEgEd+GAyAskAgWask7eaj60dOCCJCm6tVDocdDO2vHwQO/+HTLeTQm0xt4MipIILI2YI5NgG6I0R4j4UGWABmrbspthZelx5Njk2ST7jTKcn3BP0/50DOrV9LH4d/XWGq33XAAc8EH4h8LrM0pZ2GcYjUDihZY5c+cF8WrjtV86C8d+GFdZZJJQruIl6gjAKlfI1c2BIzCwK9BZ1p0U1zqTQNXI/D/AO6m9twMaq1L6l9MjOB8eyH2O3wjRLvBFW/fEAXXp210h+0T3o8f7/tX56Gl8HizzKANdkq7rZHqwUhWNerXwAORryOf+Hl8it02t5WkYmFVW/VycTZZqWu3JC0NFrizL9OKmWioeic9iNmnwUv3oEgccmuBzxz2515pJ4b4kNxMXJ8kZKIAHChwRy+dNmVIoMAOGI5bj3QLXHM4TSxmCJPaiI5Pe/0P/GpCQe4/p/XUH3aAkF0BUWQWAIHuQTwORyffUF8RiIJEsZA7kOtC+1m6F86thcYYeCuEg9x+o1dtYg0sSnszgH8CaP7aGl3SLeToKq7YCr7XZ4v699RbxKONoznEpBDqSyCwOVIs8ix30REohpOyn4VvRLEjSoYi6ROuKsAwlKIyqkkrE9NpYCXyW1lFLxyS08YdIr80nVVRiubSxttsUjt+RjJKeSOLJoLoQb6CEdO4UpQuDOTScUo6khMY4U+THlUP3RRMU6YgAQgENjZJLdQq70zMWYkxxtYN+QEEVqt1PgjbvCsWNTK4a0XqFFkLL0isalixUvkhCCRixAU4d75NUMiMtgTZdQx4GNVYMIzKSxeQKFwA5vua1OXxVSzZCAty7KwXjIMHZlN8FXYGxRB0ND4ggRV8lyHLL7QlnKBCQ7u5FoaALGx2vvpC6mNvb4T2l4nn5TDydZ4gzMYwSDjSOFZUcqwYglXdAR37+x124pV9ByP6j9dL97KCR5DbMOsyF8uiWDy4qreUsyox6YDNROh/C9takkDHBAa6+PUzbqYfxH2uOPR+bjLOtYhszsgNJC0W33sZsE2e9A8/33v20ZBvuLA5P5//AD1/TS1Nugq1sDty3H4c8ap/wqPzMP8A1eyvJ7A2DZv35Opww7kJgTsmksYYGxR/l7cj9dZgeNtJQTpjMJj52Mi9dS8BkTpUocL91nK3yO9ORCVX7SJUABJYxqxCgc2qg88GvXt82hNjLt1kKmKfpx301kkR4hgcSRFkTGR6ZdgTVVwrrWyDlVa0kyNVmNxsxG8ihFaSYSq4ZWaIPK0JALyIMwkcJOWBF4nEgHXa1MW0ik3IncFYUweA10sXGSurKQCRzZJ+bJVry2e0rH1RNhgdiq5tMRcJPasRuPBNwRMzqXkl29MRVZ9VaQc1wig8caaeJbR54ijdVwZEsOip5cvMRiBfH+2tJuNuAvUQ5Rm6Yc9jRVquiCCPy9K0sPiaYMy5NihcAIwLqov7PIASXwLUkWy8+YWwIOm6Sp9TUBEgSDjw9ln5vDZ+nvFZWcssaRsO7hLAJv1qrPvph4hCwkkeNZcpIxxgjIxUEKGDWV74n8fx0PttxuI4pFkDK4wbI/aXmKlCFA4vqI5VWFKrJdA8W7cyrOX89O8SsrIvYxR5MSo4Kng0cQQdUDUh+qcTkDkAf1CL3O2dv4XygFHBcL8q+Rga+gJofloTxzYzSSZRihCmUZLEXKTZIABz8owpq5Y/XVUHi8xWQEsXEcTEdPHpSSGQSD/LYui4AWFc/jyRDb7yYyLIcg7xxriImxfGeZWtigKVGQ/3PmHFUNaxTZXcwggDHqZ+F54n4ZK8k80aMGaJFVT95XQrKpAPdbU9+6+unO12f2CI4H+WodWAZbVQCGB4NV+2lO93m4dpUXNFHmFKc16csYIvpBTkhd6DSEha45U6OKMsF5J4HJFEki7IoV7kUKsfgB+KL6zqjQ07egjntVe2lEdswIVFF1kx70OApJoBQOST5r9ycu7SSPJGDLY5HuGFg+oI9QeR664QkEHEWv7g+319fy15vEJW0bE2p7WCMhYI/XnuD+mpkEEFuRw4Igtf+WCi9cGIOQvjv/4/eP5Dn8tCx+IoZOm1o/oGBAYDuVbs3rxd8E1QvTCJVODhg0bdyOVIPIbIfd/ajZNcaUODhhMGOacpiu3Zo385XNSFahYyHzUw5r2PHfWd2HijQRNDJHJIu3oLNiWDIoUKxvlpQbJAHoSPrpdzulrJSGB4BBB59Rxx7aQeJbMSoqhWYRusigNRzB73YurJr1Ar6ajVJGW6ropRo7RFS+JxRugdohJJ8rMUVmvjFS1Fu4FD3HuL7SPxXweSWZZIJGZDIOoitGAQqBDBMHN4Xk1KH/zZfs7Ks3a5n1a09Blw4yPX5SyAYOE53nw0vQ6EUjxRsjRhD5h02UqV84JWrsH0oDtxrL7HwSRZZZHV1brl38zyL1GRkDDJQI48HLeUyHlFLDCj9D6uIA+b6n29T++vZKJ78eo10GkJDhqOe9a8H8xKxO23ayfIwP5/qPxHqO45sDUyeT9B/wA6d+JeDo7dSJUDE+fyjJgAQvm7GiexB4J7d9ZlPEIwzjPExgF1kpHjBPBdWPa2Xm68w59NdbHhxI38+eC5alGBc3TyRMO3RbwVVyORxAFk92NDkn30SsXBY9h++hdu1ik84ABDC6xPymwvqOfr6atnmjERllfCJOSe60DWXy2bJ9tVLCDlRAV3UsABTZHl7djXPeu1n9L+s45APR7A9VND3/H99Q6iQuqEgdU4pfcuOceB7WefY6N0rrQdE6o/i0qwb/AEnj6d+96jJGCrMpIogn0HcckEUf7vU5tykZUMQpkbFf5nomuPWge/tqO+kAQ2CfoBZNEcAet9q0A9rc557kQ0uwFOOZTw1ZDuvr+Q719dQ8SyVOpBJJE4HyxhGzuqGMgKjn73FAtoNonlTEw9GzTWyE4MKYo0ROLc8HiiL9tXTbaQx9MsGLWrOKRgh9QMWXL04CiuRRHPNUsfJaM8Y5PO666YcyA52NxPIRh3JMhJq2Xn8jx/Vv1H00g2Pj+5UxnEENOVulGUbSPGiDjhlKSMWu6Rf+4KYbXbyRgGWQyNwAEjr6HuxY2PMSWNY2B6aR+KbuWN3c9OPpwztGhUgCQU8TKSSkzHFj5QrLb8H1ZuGwNUCJdKJ8N8fePPpqpa+sHcvUwnZumy1FlkcaACEEAc/MR5obcbsfbFdrCCXxkikiQlnWinlX5zi8kmXJ8pHGYde10NDWiApODiZK1ng3jEryDqlmEiysR0wOnhMqxAFFBIeJma3snC14u3ibtDeJBrv+fuDyPz1fGiiwqgC74H6nUW2KnuoNf3X4H1HY+uoGSnELKfE3xrt9o4VlZgQrFlaMLbFwF8zA39m54HHHrxrKeK/CD+JSbndKXjzjVVQuLcorq8b4tQHVWJgTY4/TWfFfwHDucpHcgJHQTFCv2fUZT5lJBuRhwe2mng3gggDRq7NifmarOXnN4gDux7DTtgCW6pnRAXz3c+E75H2v8AlokKQIzLPjwlCQOrCnuyBXHP3ieCPFPh/cyJvUAyEyfZmSTz5F1OICuY1jCrYJVW5A551s/G4iI/LGHYlRTC1FkUxHdseDQ54HI7i0wjjkcgfmdYVCDCm5vRlYvcfD0hmjV7MK73NLkYssLRVQfLMecni7515vvh/wARO1gRT9tHCQXWUB+v1FxzZmAZOkK4s5XfB52G+gsKBRxIIHuQb/2A0P4l46I4JnFB44mkCNd2FYrYHOJZSLB9DzxxQvhoKm1pJgJPuvh6dt8srLlGu5Eiv1fKsPSKdMRFvmDkmwvr3Oj946vOylQDDgyEnk9S1LAegoMlk3YbgUCVqfGUxdB0LUoQx5U9ZWjVsQx+QmaNVDAMC3moA6Zf4sERg6SmRUmeQ0n2f8NgzXiaIGcdY3de+omXuaIwrgWAk6pm0RA7ev56ti2ZJ54Gl8/jUgkRRA+QlKSRlociOg0qlXzwFeU9weCNXD4jBn2yxMOjOqGzEzNcgLxqXEgERK4mmQ979eHtKjCReJQSdR6sy/adI/b1yq/w2JT7AL1Mup1eaB+mtBN8J7c5XHl1LBBsrT/NSE4qTzyoB5797t+FfFDuYFEyFXfbxSODjiyzKacYEhQzJJ5eCKHA40wbaKKW2Y35T2x+vlrn6nnWc4hOGgpZuvh+Ig5oLZssgzBiVXEEMhBHlpeD27680ZIrK55LIo5urFDk2ByB/T8KPaQOWLCdFGDxINf2iEL3xYUPx547evsdet4mCCyOrgWTgQaxq/X6g/hpTtvhhpFFtEAkTRpQPmyFBmscDswC3ySb96JPhiSOJkyXJgoLiwcAAHXhfQWBQ5y5FjWsGisAzitJBvgY1kZ1VfQsVA9gLuv30vO9ENsBxI9DHHG+McbIFVXA79x7EDbeElRiCrYSF4zkylVrkKVsLRLDhSADX1FCfDUkilWnsRghQgCjqn7wGNAcdxRHNVZ1rYBTAMnXCZ+OeML0hx1DlGaDY/MwxJI+UAW1mgQCPXVG4i3KlVjSGUKB5pZXRiRxyFia/e75N6z2/wDDS07qZ1D4DP1FEUwcj/LBchhYs1wBRI25ipcnlKgAkkiMAKObJI4AHcnSWh2ZWfDGgDMpQPiCFQDM6owJVgMiodB5kyx5NmgOC3oCeNKfEdhPJuXlEcnSqJFYSRhTHmTuOrE3LqUYqBR7MeMjptv9zcm2O0mjm6kjBvPH02xiduZI4pOVKg8A8+2lu0+ItwskCFktyQxYx+a9xLEViLYMemqA8RyEhltY7suym6QSQYUnObm0RK16GNxkEVlIZSSAbU8OlEXRIFqe9CxoKaWMRssSRKEjdVChRiCLdVCjyi1UlR7AnuDrN+LbiU7ZpjuOkZZWRTHigqN3XKWVpY0BZYxXmXni3sAWeEeIyzLIJZlMZgjkiiZEMgVoY2yy4yUMSpYIPPdFfl1awDMqYJ4LQeF+CQbdaiQAFsrpcixGNgKAB5BVgDi79dCeKbzaxyBWEEckMQcOyLlFArY5K2NqoPAAI5NAc8lxbShl1H4PHC8fQWvbWc8W+DJp90NysvMcIWPqc3KsvUXNVUApRI/1K1EcqNQwdXKmeCfbLdwQCOKFAgem+z27qrE0AT048VPAHmoji61f4f4r1wzRcqrtGSQR5kYhv3Gsz4t8JbifcRzCSNQhiItiJIwjEyqrCHJw98ElK5teToHb/ArCSTKWONXG6UtHkXcbr5BIMEFR96LtZ4GPfWhsZcjnYLbeK7mDbRBprqR1QkXZd2GPbsMq59NdrBx/Bzr/AJ0sSm9nQV5GtNpYc0YgRkKxFGu1+p90xpmOj5IB8arWePLuduQ2zTIyEtKTbEuoRYlKhHOGIYHEKfKtOCeZ/wCITRyO87hdv1HUlxGqJEEJjkz4YlnAXkn5uwNafq96E8V8K68bIWK2QQwq1KsrAjIEd1Hcdr1g5JCHTcRMC0DiUMDzGwcGq7FDXpXJvuPfSncbxoIZJaHLUOatmcRizR4sr7kC+CQAXnhfhy7dXBdmeRy7OwUEs30QAAD2A9/fS7e7QvtyqYknPAOPJkrEplXNZYk1zxxrPd0TblFoFwnRS8O8NwDKMady1Kqjlu/YC+Se/f11HffD5IXpMxwZZDEW8j4m8La69CPu2q3XcT8P37OzjBlxNZ8Ysebx5sgcc9ufodNo5QqEk1zR/E8AfuNTpEBos0TVLrjdqkfgHhcyhpXeiyqhEuLSMYmkuRmiIQMcglgN5Y0P8oYQ7ZqJ6oLHuAoIo+luCfz/AGGp7dXxYDDEOwogn1sG7HHI4r89VlJA3lN+/FL9TXr+JPH9Xc7fCEKX8CR/1G/9Ur9x3/TVG62tRyW7mlb1AHynuAKOiwl/MwI/b+61XvTUT12wbt9QedK1xn/ExCU+M+Jpty1RRnpoJHYisUYuFIYRuWYmOQ21KMbZlsXfsPHOpNJCwYFZXRDicWwGVBrPmxyJHsp1ZvvCIp/LOoYDymmYEh6yBKkEqaFqeDQ44GoS7SJnYBELOzHE/wCp1KyMQ3oULA8Hg1V611+MytEIJ/i7biFpkzcBghCKGYM3IHlYjmx2J+v083fjSoJcwWaIv8wZYSYlLyKHVCzlUDGsSOCPXRCfCUIFY2c8rzltTjjYkzzJw8vJ7XwL0RvPDITYZAVOZa75aVSkh4PdlYj8L7aMsZohBK9k2qKvKRg1k4ABWx3A8osDnuBx6DtrtZyJN029/wCsYhNz36eF2P5ccKP+rL6a7SOuGZ1Ti3cL/9k=

Membangun Peradaban Islam

Bismillahirrahmanirrahiim, InsyaAllah blog ini akan saya khususkan untuk menukil potongan-potongan (snapshoot) teladan dari para sahabat. Karena berupa snapshoot tentunya akan berisi berbagai pendapat atau telaah dari berbagai tokoh, dari berbagai sudut pandang dan perspektif, serta berbagai momentum. Untuk edisi perdana ini temanya masih sangat global dan makro. Kali ini saya ambil dari cuplikan rubrik wawancara majalah islam Sabili No. 21 Th. XV 1 Mei 2008/25 Rabiul akhir 1429 H. Saya ambil salah satu dialog dengan KH. Syaifudin Amsir (Tokoh NU Betawi) tentang strategi sahabat (khususnya khalifah yang empat) dalam membangun peradaban islam.

Kita awali dengan alasan mengapa KH. Syaifudin Amsir mengambil teladan dari khalifah yang empat ketika sang wartawan Sabili menanyakan tentang strategi dalam membangun peradaban islam. Beliau mensitir perkataan salah satu penguasa Eropa, Napoleon Bonaparte, yang mengatakan bahwa 15 tahun rentang antara Muhammad dan sahabatnya lebih berarti dalam mengubah peradaban dari pada 15 abad rentang antara Musa dengan Isa.

Berikut ini telaah KH. Syaifudin Amsir tentang strategi membangun peradaban ala khulafaurrasidin.

Pertama, khalifah Abu Bakar berkonsentrasi pada pembangunan ekonomi. Abu Bakar menyadari karena islam masih muda, maka harus diperkuat sisi ekonominya untuk membangun kekuatan lainnya. Tidak mungkin umat islam bisa berjuang mandiri jika tidak memiliki sumber-sumber ekonomi yang kuat. Amar ma’ruf dalam bidang ekonomi memunculkan pengusaha-pengusaha muslim yang berorientasi akhirat bukan dunia.

Kedua, setelah pondasi ekonomi kuat, khalifah Umar memperkuat internal umat islam dengan penegakan hukum. Hukum diterapkan tanpa pandang bulu. Pejabat yang korup langsung diadili dan dipecat. Hukum tidak kebal bagi umat islam sendiri, meski kelihatan seperti membela kelompok non-muslim. Tapi yang dimunculkan oleh Umar adalah ketegasan dan kepastian hokum. Keputusan ini memang tepat, karena pada saat islam mulai menanjak maju terjadi yang namanya euphoria. Ini yang diluruskan Umar bahwa perjuangan belum selesai.

Ketiga, setelah fondasi ekonomi dan kepastian hukum, khalifah Ustman bin Affan mulai menjalankan ekspansi dan ekspedisi ke penjuru dunia memperkenalkan kebenaran islam agar tidak dimiliki dunia islam saja, tapi harus menjadi rahmat seluruh alam. Karenanya, khalifah memilih orang yang berbakat di bidangnya untuk maju ke garis depan menjadi diplomat, utusan khalifah atau panglima perang. Akhirnya muncullah sahabat seperti Abi Dzar al-Ghifari berhadapan dengan panglima nasrani yang sangat mewah. Dalam konteks ini, kezuhudan Ustman tidak perlu dipajang dan dipamerkan di mana-mana. Untuk berhadapan dengan dunia luar, khalifah menyebarkan panglima-panglima yang perlente dan cakap dalam bidangnya. Pada masa inilah sejarah mencatat islam menyebar ke mana-mana.

Keempat, Allah menyempurnakan islam dengan sikap dan kepemimpinan Ali. Sekali lagi, pada saat islam makin meninggi, euphoria makin menjadi-jadi. Katamakan pada dunia dengan sendirinya mulai terjadi dalam tubuh umat islam sendiri. Ali sendiri mengatakan, “Hai dunia, aku telah talak engkau tiga kali, tapi kenapa masih saja mengejar aku juga.” Karena itu, konsentrasi yang dijalankan Sayyidina Ali adalah meluruskan kekuatan yang menjadi keindahan islam. Keindahan islam bukan hanya pada menumpuk harta, tapi kepastian hukum, keadilan dan pengelolaan harta untuk jihad fii sabilillah.

Referensi:

  1. Sabili No. 21 Th. XV 1 Mei 2008/25 Rabiul akhir 1429 H (hlm. 54-55)
  2. http://1.bp.blogspot.com  (gambar kaligrafi Abu Bakar)
  3. http://kisahkayahikmah.files.wordpress.com  (gambar kaligrafi Umar bin Khatab)
  4. http://www.muslimdaily.net  (gambar kaligrafi Ustman bin Affan)
  5. http://www.lastprophet.info  (gambar kaligrafi Ali bin Abi Thalib)